Tuesday, June 14, 2011

Rumah Untuk Kejujuran

Mohon ikut berkontribusi. Setidaknya, ikut berdoa dan LIKE.

https://www.facebook.com/pages/Rumah-untuk-Kejujuran/179369742120800

Untuk cerita latar belakangnya, mohon bantuan share link berita-beritanya. (Berita utama mungkin dari Surabaya Post?) Ini kasus keluarga yang tidak ingin terlibat nyontek bersama. Setelah dilaporkan, malah mereka yang mendapat tekanan dan bahkan diusir dari rumahnya.


Filed under: Pendidikan Tagged: Pendidikan, postaday2011
Link to full article

Kebiasaan Mendengarkan Lagu

Menyimak komentar-komentar di tulisan saya terdahulu, saya melihat ada dua kebiasaan yang berbeda dalam mendengarkan lagu; (1) yang senang lagu diacak, dan (2) yang senang lagu diurut. Saya lebih ke arah yang terakhir, terurut.

Kalau mendengarkan lagu biasanya saya mencari temanya. Misalnya, jika saya ingin yang bersemangat maka saya akan mainkan lagu-lagu rock yang bersemangat. Jika saya ingin memulai hari dengan tenang maka saya dengarkan lagu-lagu jazz-nya Bob James. Jika saya ingin menikmati musik, maka saya putar lagu-lagu progressive rock kesukaan saya. Atau kadang saya ingin mendengarkan lagu-lagu dari artis tertentu. Dan seterusnya. Pokoknya bertema begitu.

Memang kadang saya juga mendengarkan lagu secara acak, tapi jarang. Menarik juga melihat kebiasaan yang berbeda.


Filed under: Musik Tagged: Musik, postaday2011
Link to full article

[STOP PRESS] Biru Selalu Bukan Milikku Lagi

Biru Selalu bukan milikku lagi. Blog dot info yang pernah saya kelola pada 2010 silam itu kini bukan milik saya lagi. Lantaran merasa kalang kabut dalam mengupdate, blog bertajuk “biru hati biru bumi” itu saya biarkan terbengkalai hingga masa kontraknya … Continue reading
Link to full article

Cara DKI Menyehatkan Pejalan Kaki

KRISIS PEKERTI KARENA KITA BINGUNG.

Di manakah nurani? Ada di setiap hati. Tak hanya pada hati Bu Siami, seorang ibu, yang melaporkan kecurangan ujian nasional di SD anak lelakinya, nun di Surabaya sana.

Baiklah, silakan Anda menyebut saya sok tahu, berani menyebut nurani ada di setiap hati. Saya sok tahu karena informasi yang saya dapat tak lengkap.

Mereka yang memusuhi Bu Siami dan keluarganya, bahkan mengusirnya, saya yakin masih memiliki nurani di sudut hati.

Mereka adalah orang-orang yang mencoba berdamai dengan realitas bernama jalan pintas, dan ketika dorongan untuk menjadi sekawanan serigala menguat, maka suara terbanyak boleh dianggap bisikan Tuhan, tetapi dalam hati kecilnya sesungguhnya tahu bahwa itu salah.

Mereka mempersalahkan pengawas ujian kenapa membiarkan pencontekan itu untuk penghiburan diri sekaligus pembelaan diri.

“Ini salah, ” bisik setiap sudut hati mereka.

“Memang salah, tapi di mana-mana lumrah. Sudahlah, tahu sama tahu saja, yang penting anak-anak kita tetap lulus, ndak perlu mengulangi ujian,” kata benak mereka serempak.

Kambing hitam mesti ditetapkan. Harus ada yang dikorbankan dalam pertempuran bisikan hati dan suruhan benak kolektif. Bu Siami adalah sasaran yang tepat.

Setiap orang punya nurani. Tetapi setiap orang juga punya benak yang seolah jalannya lempang pun masuk akal padahal tidak. Jika kecurangan dibiarkan jangan harap kita mendapatkan apapun sesuai standar, lalu ujung-ujungnya hampir semua orang dirugikan. Itu tak sesuai akal sehat.

Terhadap aneka penyimpangan, rakyat akhirnya menyerah, bahkan ketika dirugikan sekalipun. Kalau pemimpin dan para manusia rujukan tak bisa diandalkan, karena ternyata menjadi bagian dari penyimpangan, maka rakyat memilih ikut arus.

Ketika penyimpangan — dari kecurangan, pungli, suap, mencuri, sampai nepotisme — ternyata menguntungkan, maka setiap koreksi dianggap gangguan karena mengusik kenyamanan bersama. Koreksi itu bernama Bu Siami.

Jika menyangkut pendidikan, kita ingat skandal beberapa tahun lalu. Formula kelulusan diubah setelah ujian. Mereka yang protes adalah yang dirugikan. Yang diuntungkan tidak protes. Mereka sadar telah tak berlaku adil, tetapi kecurangan sesaat tetaplah dibutuhkan karena yang namanya standar ternyata bisa dikompromikan.

Kita ingat kasus Air Mata Guru. Sekelompok guru membuka aib sejumlah sekolah dan birokrat pendidikan dalam kecurangan ujian tetapi yang terkena nestapa ternyata sekelompok guru itu.

Jangan melawan arus, bahkan meskipun arus itu salah, kecuali diri kita cukup tangguh. Tanpa diajarkan secara verbal secara terus menerus pun setiap orang paham.

Jika Indonesia adalah sebuah kelas, maka rakyat adalah para murid pemetik hikmah yang pintar. Kalau anak nakal dibiarkan, bahkan dipuji padahal sering mencurangi apapun, maka anak manis sebaiknya ikut. Bu Siami adalah murid yang menyimpang: mengganggu keselarasan, mengusik kenyamanan bersama.

Ini serupa seorang warga di sebuah lingkungan yang membangun rumah baru di atas bekas rumahnya dengan mengurus IMB secara prosedural. Umumnya tetangga, terutama pengurus lingkungan, menampakkan ketidakrelaan karena ketika menambah teras dan kamar mereka tak mengurus IMB. Tindakan seorang warga mengurus IMB dianggap sebagai pengingat kepada birokrat pengawas bahwa di sebuah kantong permukiman yang sadar IMB hanya satu.

Akan tetapi jika bicara prosedur ternyata yang tertulis dan terwujudkan sungguh jauh panggang dari api. Karena naluri mendorong makhluk hidup menyesuaikan diri, maka rakyat pun mengamini tujuan hanya demi tujuan tetapi tak hirau cara. Toh orang lain juga melakukan. Toh masing-masing juga memetik manfaat.

Tujuan. Hasil nyata. Instan. Itu lebih utama. Ijazah dari hasil membeli bukan hal yang memalukan, dan dalam segala kesempatan masyarakat tak peduli apakah gelar berganda (yang belum tentu membeli) juga diimbangi oleh kecendekiaan. Lihat saja poster-poster kampanye pemilu dan pilkada.

Kita semua tahu, dan sadar, bahwa itu semua salah. Tetapi kita juga tahu, dan sadar, bahwa jika kita lemah janganlah melawan. Terlebih ketika kita tak ikutan malah dikorbankan. Tak ikut teman korupsi malah dianggap sebagai batu sandungan dan karier bisa terganjal. Apalagi kalau melawan.

Persoalan besar kita adalah pekerti. Anehnya ketika kita bicara tentang akhlak seolah topik hanya dibatasi pada urusan seks. Korupsi tak termasuk. Ralat: termasuk tetapi bukan prioritas.

Pendekatan ini pun merupakan hasil adaptasi terhadap realitas. Ketika soal lain yang lebih kompleks dan pelik sulit diatasi, bahkan masing-masing orang diuntungkan, maka soal remeh dikedepankan. Kenapa? Sepintas lebih mudah, terutama dalam memilah siapa siapa yang bersusila dan bukan, kita dan mereka.

Dalam korupsi, pemilahan terasa sulit dan berat, apalagi kalau kita terlibat — sekecil apapun.

Di manakah nurani dan akal sehat? Sedang bersembunyi. Mereka akan keluar setelah bosan dan tak tahan. Entah kapan.

© Foto Siami suaminya, Widodo, oleh Imam Wahyudiyanta/detik.com


Link to full article

Menggigit Nasi Padat di KFC

KRISIS PEKERTI KARENA KITA BINGUNG.

Di manakah nurani? Ada di setiap hati. Tak hanya pada hati Bu Siami, seorang ibu, yang melaporkan kecurangan ujian nasional di SD anak lelakinya, nun di Surabaya sana.

Baiklah, silakan Anda menyebut saya sok tahu, berani menyebut nurani ada di setiap hati. Saya sok tahu karena informasi yang saya dapat tak lengkap.

Mereka yang memusuhi Bu Siami dan keluarganya, bahkan mengusirnya, saya yakin masih memiliki nurani di sudut hati.

Mereka adalah orang-orang yang mencoba berdamai dengan realitas bernama jalan pintas, dan ketika dorongan untuk menjadi sekawanan serigala menguat, maka suara terbanyak boleh dianggap bisikan Tuhan, tetapi dalam hati kecilnya sesungguhnya tahu bahwa itu salah.

Mereka mempersalahkan pengawas ujian kenapa membiarkan pencontekan itu untuk penghiburan diri sekaligus pembelaan diri.

“Ini salah, ” bisik setiap sudut hati mereka.

“Memang salah, tapi di mana-mana lumrah. Sudahlah, tahu sama tahu saja, yang penting anak-anak kita tetap lulus, ndak perlu mengulangi ujian,” kata benak mereka serempak.

Kambing hitam mesti ditetapkan. Harus ada yang dikorbankan dalam pertempuran bisikan hati dan suruhan benak kolektif. Bu Siami adalah sasaran yang tepat.

Setiap orang punya nurani. Tetapi setiap orang juga punya benak yang seolah jalannya lempang pun masuk akal padahal tidak. Jika kecurangan dibiarkan jangan harap kita mendapatkan apapun sesuai standar, lalu ujung-ujungnya hampir semua orang dirugikan. Itu tak sesuai akal sehat.

Terhadap aneka penyimpangan, rakyat akhirnya menyerah, bahkan ketika dirugikan sekalipun. Kalau pemimpin dan para manusia rujukan tak bisa diandalkan, karena ternyata menjadi bagian dari penyimpangan, maka rakyat memilih ikut arus.

Ketika penyimpangan — dari kecurangan, pungli, suap, mencuri, sampai nepotisme — ternyata menguntungkan, maka setiap koreksi dianggap gangguan karena mengusik kenyamanan bersama. Koreksi itu bernama Bu Siami.

Jika menyangkut pendidikan, kita ingat skandal beberapa tahun lalu. Formula kelulusan diubah setelah ujian. Mereka yang protes adalah yang dirugikan. Yang diuntungkan tidak protes. Mereka sadar telah tak berlaku adil, tetapi kecurangan sesaat tetaplah dibutuhkan karena yang namanya standar ternyata bisa dikompromikan.

Kita ingat kasus Air Mata Guru. Sekelompok guru membuka aib sejumlah sekolah dan birokrat pendidikan dalam kecurangan ujian tetapi yang terkena nestapa ternyata sekelompok guru itu.

Jangan melawan arus, bahkan meskipun arus itu salah, kecuali diri kita cukup tangguh. Tanpa diajarkan secara verbal secara terus menerus pun setiap orang paham.

Jika Indonesia adalah sebuah kelas, maka rakyat adalah para murid pemetik hikmah yang pintar. Kalau anak nakal dibiarkan, bahkan dipuji padahal sering mencurangi apapun, maka anak manis sebaiknya ikut. Bu Siami adalah murid yang menyimpang: mengganggu keselarasan, mengusik kenyamanan bersama.

Ini serupa seorang warga di sebuah lingkungan yang membangun rumah baru di atas bekas rumahnya dengan mengurus IMB secara prosedural. Umumnya tetangga, terutama pengurus lingkungan, menampakkan ketidakrelaan karena ketika menambah teras dan kamar mereka tak mengurus IMB. Tindakan seorang warga mengurus IMB dianggap sebagai pengingat kepada birokrat pengawas bahwa di sebuah kantong permukiman yang sadar IMB hanya satu.

Akan tetapi jika bicara prosedur ternyata yang tertulis dan terwujudkan sungguh jauh panggang dari api. Karena naluri mendorong makhluk hidup menyesuaikan diri, maka rakyat pun mengamini tujuan hanya demi tujuan tetapi tak hirau cara. Toh orang lain juga melakukan. Toh masing-masing juga memetik manfaat.

Tujuan. Hasil nyata. Instan. Itu lebih utama. Ijazah dari hasil membeli bukan hal yang memalukan, dan dalam segala kesempatan masyarakat tak peduli apakah gelar berganda (yang belum tentu membeli) juga diimbangi oleh kecendekiaan. Lihat saja poster-poster kampanye pemilu dan pilkada.

Kita semua tahu, dan sadar, bahwa itu semua salah. Tetapi kita juga tahu, dan sadar, bahwa jika kita lemah janganlah melawan. Terlebih ketika kita tak ikutan malah dikorbankan. Tak ikut teman korupsi malah dianggap sebagai batu sandungan dan karier bisa terganjal. Apalagi kalau melawan.

Persoalan besar kita adalah pekerti. Anehnya ketika kita bicara tentang akhlak seolah topik hanya dibatasi pada urusan seks. Korupsi tak termasuk. Ralat: termasuk tetapi bukan prioritas.

Pendekatan ini pun merupakan hasil adaptasi terhadap realitas. Ketika soal lain yang lebih kompleks dan pelik sulit diatasi, bahkan masing-masing orang diuntungkan, maka soal remeh dikedepankan. Kenapa? Sepintas lebih mudah, terutama dalam memilah siapa siapa yang bersusila dan bukan, kita dan mereka.

Dalam korupsi, pemilahan terasa sulit dan berat, apalagi kalau kita terlibat — sekecil apapun.

Di manakah nurani dan akal sehat? Sedang bersembunyi. Mereka akan keluar setelah bosan dan tak tahan. Entah kapan.

© Foto Siami suaminya, Widodo, oleh Imam Wahyudiyanta/detik.com


Link to full article

Pelatihan sebagai Mukjizat :)

KRISIS PEKERTI KARENA KITA BINGUNG.

Di manakah nurani? Ada di setiap hati. Tak hanya pada hati Bu Siami, seorang ibu, yang melaporkan kecurangan ujian nasional di SD anak lelakinya, nun di Surabaya sana.

Baiklah, silakan Anda menyebut saya sok tahu, berani menyebut nurani ada di setiap hati. Saya sok tahu karena informasi yang saya dapat tak lengkap.

Mereka yang memusuhi Bu Siami dan keluarganya, bahkan mengusirnya, saya yakin masih memiliki nurani di sudut hati.

Mereka adalah orang-orang yang mencoba berdamai dengan realitas bernama jalan pintas, dan ketika dorongan untuk menjadi sekawanan serigala menguat, maka suara terbanyak boleh dianggap bisikan Tuhan, tetapi dalam hati kecilnya sesungguhnya tahu bahwa itu salah.

Mereka mempersalahkan pengawas ujian kenapa membiarkan pencontekan itu untuk penghiburan diri sekaligus pembelaan diri.

“Ini salah, ” bisik setiap sudut hati mereka.

“Memang salah, tapi di mana-mana lumrah. Sudahlah, tahu sama tahu saja, yang penting anak-anak kita tetap lulus, ndak perlu mengulangi ujian,” kata benak mereka serempak.

Kambing hitam mesti ditetapkan. Harus ada yang dikorbankan dalam pertempuran bisikan hati dan suruhan benak kolektif. Bu Siami adalah sasaran yang tepat.

Setiap orang punya nurani. Tetapi setiap orang juga punya benak yang seolah jalannya lempang pun masuk akal padahal tidak. Jika kecurangan dibiarkan jangan harap kita mendapatkan apapun sesuai standar, lalu ujung-ujungnya hampir semua orang dirugikan. Itu tak sesuai akal sehat.

Terhadap aneka penyimpangan, rakyat akhirnya menyerah, bahkan ketika dirugikan sekalipun. Kalau pemimpin dan para manusia rujukan tak bisa diandalkan, karena ternyata menjadi bagian dari penyimpangan, maka rakyat memilih ikut arus.

Ketika penyimpangan — dari kecurangan, pungli, suap, mencuri, sampai nepotisme — ternyata menguntungkan, maka setiap koreksi dianggap gangguan karena mengusik kenyamanan bersama. Koreksi itu bernama Bu Siami.

Jika menyangkut pendidikan, kita ingat skandal beberapa tahun lalu. Formula kelulusan diubah setelah ujian. Mereka yang protes adalah yang dirugikan. Yang diuntungkan tidak protes. Mereka sadar telah tak berlaku adil, tetapi kecurangan sesaat tetaplah dibutuhkan karena yang namanya standar ternyata bisa dikompromikan.

Kita ingat kasus Air Mata Guru. Sekelompok guru membuka aib sejumlah sekolah dan birokrat pendidikan dalam kecurangan ujian tetapi yang terkena nestapa ternyata sekelompok guru itu.

Jangan melawan arus, bahkan meskipun arus itu salah, kecuali diri kita cukup tangguh. Tanpa diajarkan secara verbal secara terus menerus pun setiap orang paham.

Jika Indonesia adalah sebuah kelas, maka rakyat adalah para murid pemetik hikmah yang pintar. Kalau anak nakal dibiarkan, bahkan dipuji padahal sering mencurangi apapun, maka anak manis sebaiknya ikut. Bu Siami adalah murid yang menyimpang: mengganggu keselarasan, mengusik kenyamanan bersama.

Ini serupa seorang warga di sebuah lingkungan yang membangun rumah baru di atas bekas rumahnya dengan mengurus IMB secara prosedural. Umumnya tetangga, terutama pengurus lingkungan, menampakkan ketidakrelaan karena ketika menambah teras dan kamar mereka tak mengurus IMB. Tindakan seorang warga mengurus IMB dianggap sebagai pengingat kepada birokrat pengawas bahwa di sebuah kantong permukiman yang sadar IMB hanya satu.

Akan tetapi jika bicara prosedur ternyata yang tertulis dan terwujudkan sungguh jauh panggang dari api. Karena naluri mendorong makhluk hidup menyesuaikan diri, maka rakyat pun mengamini tujuan hanya demi tujuan tetapi tak hirau cara. Toh orang lain juga melakukan. Toh masing-masing juga memetik manfaat.

Tujuan. Hasil nyata. Instan. Itu lebih utama. Ijazah dari hasil membeli bukan hal yang memalukan, dan dalam segala kesempatan masyarakat tak peduli apakah gelar berganda (yang belum tentu membeli) juga diimbangi oleh kecendekiaan. Lihat saja poster-poster kampanye pemilu dan pilkada.

Kita semua tahu, dan sadar, bahwa itu semua salah. Tetapi kita juga tahu, dan sadar, bahwa jika kita lemah janganlah melawan. Terlebih ketika kita tak ikutan malah dikorbankan. Tak ikut teman korupsi malah dianggap sebagai batu sandungan dan karier bisa terganjal. Apalagi kalau melawan.

Persoalan besar kita adalah pekerti. Anehnya ketika kita bicara tentang akhlak seolah topik hanya dibatasi pada urusan seks. Korupsi tak termasuk. Ralat: termasuk tetapi bukan prioritas.

Pendekatan ini pun merupakan hasil adaptasi terhadap realitas. Ketika soal lain yang lebih kompleks dan pelik sulit diatasi, bahkan masing-masing orang diuntungkan, maka soal remeh dikedepankan. Kenapa? Sepintas lebih mudah, terutama dalam memilah siapa siapa yang bersusila dan bukan, kita dan mereka.

Dalam korupsi, pemilahan terasa sulit dan berat, apalagi kalau kita terlibat — sekecil apapun.

Di manakah nurani dan akal sehat? Sedang bersembunyi. Mereka akan keluar setelah bosan dan tak tahan. Entah kapan.

© Foto Siami suaminya, Widodo, oleh Imam Wahyudiyanta/detik.com


Link to full article

Akun Twitter Saya Kena Suspend

twitter.com%2525202011 6 10%25252015 27 4 Akun Twitter Saya Kena Suspend

Akun Twitter Saya Disuspend

Salah satu akun twitter saya kena suspend. Sayang sekali, padahal sudah punya 900an follower dan hanya memfollow sekitar 700an akun. Kesalahan yang saya lakukan, kemungkinan adalah mengirimkan tweet yang berisi link ke beberapa akun dalam waktu yang singkat. Nggak banyak sih sebenernya. Wong jumlah keseluruhan tweetnya saja baru ada 355 buah. Ya nasip, sudahlah. Tetapi efeknya, jadi takut membuat akun baru lagi, karena twitter ternyata sangat ganas. Saya takut malah twitter asli saya @isnuansa nanti yang bakalan kena imbasnya, maklum, baik komputer, laptop maupun handphone, semua pernah dipakai ngetweet secara bergiliran oleh akun-akun milik saya, adik dan pasangan. Jadi, kalau nanti kena imbas semuanya, ngeri deh.

Peraturan yang dibuat oleh twitter sangat banyak, dan saya yakin, teman-teman yang aktif ngetwit dan menggunakan twitter hampir setiap hari-pun banyak yang belum membaca dengan teliti, apa saja larangan oleh pihak twitter dalam menggunakan layanannya.

Dilarang Membuat Akun Berseri

Dari sini sudah jelas bahwa di twitter, Anda cukup memiliki satu akun saja. Tapi ya namanya juga pengen eksis, atau anonim, atau memang ada tujuan untuk branding blog, situs jualan yang kita miliki, dan lain sebagainya, terkadang kita berkeinginan memiliki banyak akun sekaligus. Memang sih dari bahasanya, yang dilarang adalah memiliki banyak akun dengan tujuan mengganggu. Jadi, sudah mulai berpikir untuk menghentikan proses “beternak” akun?

Dilarang Memarkir Akun

Membuat akun twitter, berarti anda harus menggunakannya secara aktif. Jangan membuat akun hanya dengan tujuan menghindari orang lain menggunakan nama tersebut sebagai username, kemudian dibiarkan saja. Apalagi sampai membuat akun demi menjual akun tersebut kepada yang membutuhkan di kemudian hari. Anda juga tidak diperbolehkan memanipulasi supaya akun terlihat aktif, dengan menggunakan aplikasi pihak ketiga seperti twitter feed. Jika akun twitter Anda tidak aktif dalam 6 bulan terakhir, twitter berhak menghilangkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Mengerikan!

Dilarang Mengirim Spam dan Pornography

Yang ini sudah jelas banget seharusnya. Anda tidak boleh menggunakan layanan Twitter untuk tujuan spamming kepada siapa pun. Yang dikategorikan spam oleh twitter ini luas cakupannya, meliputi:

Following Akun Twitter Saya Kena Suspend

Follow Massal

Dilarang memfollow banyak akun sekaligus dalam waktu singkat. Dalam satu hari, ada batasan jumlah akun yang bisa Anda ikuti. Jangan sampai kena peringatan, apalagi membandel, hanya demi mendapatkan follow back. icon lol Akun Twitter Saya Kena Suspend Penggunaan auto follow juga dilarang dalam hal ini. Anehnya, banyak yang masih melanggar, karena banyak berseliweran hashtag-hashtag di twitter seperti #TeamFollowBack dan #AutoFollowBack.

Berbahaya juga buat Anda jika memiliki perbandingan jumlah follower dan following yang sangat jauh. Jangan sampai Anda memfollow ribuan orang, sedangkan Anda hanya memiliki sedikit sekali follower. Ini masuk ke dalam kategori spam juga.

Dilarang membuat update tweet yang hanya berisi link, apalagi link tersebut menyesatkan orang, dan membuat banyak orang melaporkan Anda sebagai spammer, atau bahkan diblok. Jangan sampai mengirim reply ke banyak akun dengan isi yang sama, atau menggunakan penyalahgunaan hashtag # yang tidak sesuai dengan topik.

Dilarang Menyalahgunakan Badge

Beberapa waktu yang lalu saya masih melihat teman-teman saya di timeline menggunakan badge Verified Account di gambar profilnya. Padahal ini melanggar peraturan twitter, dan bisa juga mengakibatkan sebuah akun kena suspen.

Nah, kalau sudah tau sebagian besar aturan twitter, masih adakah yang berniat melanggar? Yang bukan pelanggaran di twitter antara lain menjadwalkan tweet dan menghapus tweet. Saya sendiri sekarang masih tersisa dua akun lagi setelah yang satu sudah kena suspend. Teman-teman ada yang punya pengalaman juga dengan akun twitternya yang disuspend?


Link to full article

HOPE or PAIN – Ayumi Hamasaki

Ini mungkin tulisan kesekian tentang J-Pop atau mungkin J-Diva asal Matahari Terbit Jepang. Bahkan saya sempat membuat beberapa Tema dengan nama beliau mulai dari Ayumi dan juga Hamasaki yang bertema majalah itu. Saat ini saya ingin menuliskan salah satu lagu yang ada di Album Next Level. Album ini bukanlah album baru tapi Album yang terbit pada 2009 tepatnya 29 Maret.

Ayumi Hamasaki Double Photo

Ayumi Hamasaki Double Photo

Album ini memuat beberapa lagu hit mulai dari Green, Will, Scar, Signal, Heartplace dan masih banyak lagi. Salah satu lagu yang akan saya bahas adalah HOPE or PAIN. kalau saya coba cari cari makna dari lagu ini, sepertinya banyak dari kita yang mengalaminya dan bisa jadi tidak merasakannya karena hanya dianggap suatu hal yang lumrah. Tapi kalau kita mau sedikit melihat kedalam diri. Mungkin ada kalanya kita bisa METANI sehingga bisa mengambil tindakan sehingga apa yang sedang dialami ini benar benar bisa jadi HARAPAN atau hanya menjadi PENDERITAAN.

Ayumi Hamasaki Stand UpSilahkan simak Lirik HOPE or PAIN berikut

What am I expecting?
Every time the phone receiver
I’m grasping trembles
My heart leaps
But soon I’m let down with a sigh
How many times will I continue to do this?

How long am I going to believe the words, “some other day”
When it will never come?

It’s better to forget
Thinking that I just dreamed for a little while
Though I know very well
A miracle will never happen
Though I know very well

I’m sorry I told you abruptly that day
That everything became suddenly unclear

The last time that I saw your tears
Is still clinging to my memory

Why couldn’t I believe in you .
Right in front of me?
You see? It must have been good enough
Only to love what I was loving
Almost clumsily

I wonder if I could leave
Something for you

When time passes by
What will be left for me?
My heart going on wishing for a miracle?
Or just

A scar?

Kalau Jago Bahasa Jepang, berikut Lirik Aslinya

ittai nani wo kitai shiteru to iu no
nigirishimeteru denwa ga furueru tabi
ichiichi mune ga takanatte
demo sugu ni tameiki ni kaete
mou nando kurikaeshi

kuru wake nai itsuka nante kotoba
itsu made shinjiteru tsumori

nee wasurete shimaeba ii
sukoshi yumemite ita dake datte
kiseki nante okoru wake mo
nai koto kurai wakatteru noni
wakatteru noni

kyuu ni subete ga wakaranaku natta tte
ano hi totsuzen iidashite gomen ne

saigo ni mita namida ga ima mo mada
atama kara hanarezu ni iru

nee doushite me no mae no kimi wo
shinjite agerarenakatta n’ darou
suki na mono wo bukiyou na kurai
suki na dake de juubun datta
hazu na noni ne

nee watashi wa kimi ni nanika wo
nokoshite ageru koto ga dekita kana

nee kono mama toki ga sugitara
watashi ni wa nani ga nokoru n’ darou
soredemo mada kiseki wo negai
tsudzukeru kokoro? soretomo tada no

kizuato kana?

Hidup bukanlah hanya hitam dan putih, bukan benar salah, bukan winner dan loser, tapi hidup adalah rangkaian demi rangkain perasaan, pikiran, tindakan yang bisa jadi diantaranya ada area abu abu, ada area benci rindu, ada area cinta dan penghianatan. Yang terpenting kita bisa dan selalu tetap lurus dengan kaedah tujuan hidup. Bagi saya tidak menjadi masalah kita sempat jatuh, tapi anggap itu sebagai proses bangkit. Kalah itu biasa… menyerah itu yang parah.

Jadi sumonggo, mumpur diberi waktu hidup oleh Allah, lakukan yang terbaik untuk dunia dan akhirat, Bekerja seperti akan hidup selamanya, Beribadah seperti akan mati esok hari. Semoga bermanfaat. Apakah Ayumi Hamasaki juga punya pikiran demikian yaa? Siapa tau… nantinya akan sadar dan tobat #eh

Posted from .

HOPE or PAIN – Ayumi Hamasaki is a post from: ID-JAUHARI

Posts Related to HOPE or PAIN - Ayumi Hamasaki

  • Hamasaki

    Memang benar kali ini saya akan menyinggung dan menawarkan cerita dan sisi lain Ayumi Hamasaki. Seperti sampean sampean harus ketahui. Sudah sejak masa kuliah dulu ...

  • Kota Bandar Lampung

    Karena Kakak keempat akhirnya berpetualang ke Bandar Lampung bisa terwujud. Kakak ke empat sang bankir yang sebelumnya berdinas ria di Palembang mendapat mandat baru untuk ...

  • Cara Mengganti Nomer HP SMS Banking BRI

    Ceritanya, saya adalah pelanggan setia Indosat sejak 2006 sampai minggu kemaren. Salah satu akun Bank saya (BRI) telah saya aktifkan fitur SMS banking BRI yang ...

  • Alhamdulillah

    Terima Kasih, terima kasih semuanya, semoga ini menjadi moment awal saya untuk berkreasi lebih baik dan baik lagi di kemudian Hari

  • Sorry for Comment and New Server Hope

    This my new blog, and I'm sorry to all of my friends that all of you comment was gone. I was move to my new ...


Link to full article

Cekidot, Gan! Kamu Dodol!

KRISIS PEKERTI KARENA KITA BINGUNG.

Di manakah nurani? Ada di setiap hati. Tak hanya pada hati Bu Siami, seorang ibu, yang melaporkan kecurangan ujian nasional di SD anak lelakinya, nun di Surabaya sana.

Baiklah, silakan Anda menyebut saya sok tahu, berani menyebut nurani ada di setiap hati. Saya sok tahu karena informasi yang saya dapat tak lengkap.

Mereka yang memusuhi Bu Siami dan keluarganya, bahkan mengusirnya, saya yakin masih memiliki nurani di sudut hati.

Mereka adalah orang-orang yang mencoba berdamai dengan realitas bernama jalan pintas, dan ketika dorongan untuk menjadi sekawanan serigala menguat, maka suara terbanyak boleh dianggap bisikan Tuhan, tetapi dalam hati kecilnya sesungguhnya tahu bahwa itu salah.

Mereka mempersalahkan pengawas ujian kenapa membiarkan pencontekan itu untuk penghiburan diri sekaligus pembelaan diri.

“Ini salah, ” bisik setiap sudut hati mereka.

“Memang salah, tapi di mana-mana lumrah. Sudahlah, tahu sama tahu saja, yang penting anak-anak kita tetap lulus, ndak perlu mengulangi ujian,” kata benak mereka serempak.

Kambing hitam mesti ditetapkan. Harus ada yang dikorbankan dalam pertempuran bisikan hati dan suruhan benak kolektif. Bu Siami adalah sasaran yang tepat.

Setiap orang punya nurani. Tetapi setiap orang juga punya benak yang seolah jalannya lempang pun masuk akal padahal tidak. Jika kecurangan dibiarkan jangan harap kita mendapatkan apapun sesuai standar, lalu ujung-ujungnya hampir semua orang dirugikan. Itu tak sesuai akal sehat.

Terhadap aneka penyimpangan, rakyat akhirnya menyerah, bahkan ketika dirugikan sekalipun. Kalau pemimpin dan para manusia rujukan tak bisa diandalkan, karena ternyata menjadi bagian dari penyimpangan, maka rakyat memilih ikut arus.

Ketika penyimpangan — dari kecurangan, pungli, suap, mencuri, sampai nepotisme — ternyata menguntungkan, maka setiap koreksi dianggap gangguan karena mengusik kenyamanan bersama. Koreksi itu bernama Bu Siami.

Jika menyangkut pendidikan, kita ingat skandal beberapa tahun lalu. Formula kelulusan diubah setelah ujian. Mereka yang protes adalah yang dirugikan. Yang diuntungkan tidak protes. Mereka sadar telah tak berlaku adil, tetapi kecurangan sesaat tetaplah dibutuhkan karena yang namanya standar ternyata bisa dikompromikan.

Kita ingat kasus Air Mata Guru. Sekelompok guru membuka aib sejumlah sekolah dan birokrat pendidikan dalam kecurangan ujian tetapi yang terkena nestapa ternyata sekelompok guru itu.

Jangan melawan arus, bahkan meskipun arus itu salah, kecuali diri kita cukup tangguh. Tanpa diajarkan secara verbal secara terus menerus pun setiap orang paham.

Jika Indonesia adalah sebuah kelas, maka rakyat adalah para murid pemetik hikmah yang pintar. Kalau anak nakal dibiarkan, bahkan dipuji padahal sering mencurangi apapun, maka anak manis sebaiknya ikut. Bu Siami adalah murid yang menyimpang: mengganggu keselarasan, mengusik kenyamanan bersama.

Ini serupa seorang warga di sebuah lingkungan yang membangun rumah baru di atas bekas rumahnya dengan mengurus IMB secara prosedural. Umumnya tetangga, terutama pengurus lingkungan, menampakkan ketidakrelaan karena ketika menambah teras dan kamar mereka tak mengurus IMB. Tindakan seorang warga mengurus IMB dianggap sebagai pengingat kepada birokrat pengawas bahwa di sebuah kantong permukiman yang sadar IMB hanya satu.

Akan tetapi jika bicara prosedur ternyata yang tertulis dan terwujudkan sungguh jauh panggang dari api. Karena naluri mendorong makhluk hidup menyesuaikan diri, maka rakyat pun mengamini tujuan hanya demi tujuan tetapi tak hirau cara. Toh orang lain juga melakukan. Toh masing-masing juga memetik manfaat.

Tujuan. Hasil nyata. Instan. Itu lebih utama. Ijazah dari hasil membeli bukan hal yang memalukan, dan dalam segala kesempatan masyarakat tak peduli apakah gelar berganda (yang belum tentu membeli) juga diimbangi oleh kecendekiaan. Lihat saja poster-poster kampanye pemilu dan pilkada.

Kita semua tahu, dan sadar, bahwa itu semua salah. Tetapi kita juga tahu, dan sadar, bahwa jika kita lemah janganlah melawan. Terlebih ketika kita tak ikutan malah dikorbankan. Tak ikut teman korupsi malah dianggap sebagai batu sandungan dan karier bisa terganjal. Apalagi kalau melawan.

Persoalan besar kita adalah pekerti. Anehnya ketika kita bicara tentang akhlak seolah topik hanya dibatasi pada urusan seks. Korupsi tak termasuk. Ralat: termasuk tetapi bukan prioritas.

Pendekatan ini pun merupakan hasil adaptasi terhadap realitas. Ketika soal lain yang lebih kompleks dan pelik sulit diatasi, bahkan masing-masing orang diuntungkan, maka soal remeh dikedepankan. Kenapa? Sepintas lebih mudah, terutama dalam memilah siapa siapa yang bersusila dan bukan, kita dan mereka.

Dalam korupsi, pemilahan terasa sulit dan berat, apalagi kalau kita terlibat — sekecil apapun.

Di manakah nurani dan akal sehat? Sedang bersembunyi. Mereka akan keluar setelah bosan dan tak tahan. Entah kapan.

© Foto Siami suaminya, Widodo, oleh Imam Wahyudiyanta/detik.com


Link to full article

Kepagian

Tadi pagi saya kembali menuju Jakarta untuk memberikan presentasi. Acaranya dimulai jam 9. Agar tidak terlambat karena terjebak macet, saya berangkat dari Bandung pagi hari sekali – sekitar pukul 3:30. Shalat Subuh di salah satu rest area saja. Memang benar saya tidak terjebak macet. Pukul 6:30 saya sudah sampai di tempat.

Nah, masalahnya … saya agak lapar dan ingin buang air kecil. Jam segitu ternyata susah juga untuk mencari coffee shop. Sebetulnya saya sudah ngincer beberapa pedagang kaki lima (bubur ayam, ketoprak, soto, dll.). Hanya saja saya tidak melihat toilet di dekat itu. Akhirnya saya mampir ke restoran Padang jam 7:30. Oh ya, tempatnya dekat Kalibata.

Ini untuk kesekian kalinya saya kesulitan sarapan di pagi hari kalau di jalan :)


Link to full article

Kisah Empat Babak

Babak 1 : Ketemu Seleb

Yeaaahhh akhirnya gua ketemu seleb! Huahah. Norak? Iya banget! Emang gua norak… :P Abis udah tinggal di LA, di mana banyak seleb-seleb itu rata-rata pada tinggal di LA juga, tapi kok gua hampir gak pernah ketemu seleb ya? Kayaknya jadwal beredar gua ama jadwal beredar para seleb itu berbeda makanya gak pernah ketemu. Tempat beredar nya juga beda kali ya. Huahaha. Inget-inget kalo di Jakarta mah, kalo kita beredar pas weekend di mal-mal udah pasti ketemu seleb. Kalo disini kok di mal-mal gak pernah ketemu seleb ya? Mereka gak suka nge-mal kali ya… :P

Nah awal bulan ini kantor gua ngadain company meeting. Karena seluruh karyawan diundang, jadi kita nyewa satu bioskop biar bisa nampung. Trus semua top management pada gantian ngomong, dan tentunya kita dikasih liat cuplikan-cuplikan show berdasarkan departemen masing-masing.

Yang paling ditunggu-tunggu (dan dengan sengaja ditaruh yang paling akhir) ya bagian motion picture (film layar lebar). Kita dikasih liat trailer film-film yang bakal tayang. Sampe ke film Conan The Barbarian, eh setelah trailer nya kelar, si pemain film nya, Jason Momoa, nongol di situ. Yah emang kagak terkenal sih ya orang ini, well at least gua sih gak kenal. Tapi tetep aja kan… aktor Hollywood gitu lho. Huahaha. Sayangnya dari awal meeting kita udah dipesenin kalo gak boleh motret karena ini confidential. Trus lanjut film Warrior, dan setelah kelar trailer nya juga muncul salah satu pemainnya, si Joel Edgerton. Tetep ya gua gak tau siapa ini orang. Huahaha. Btw, film Warrior ini keliatannya bagus nih. Drama sih tapi keliatannya bagus.

Trus lanjut ke film Abduction…. Dan… tau gak siapa yang nongol? Taylor Lautner! Nah.. kalo ini baru gua kenal. Huahaha. Yah siapa ya yang gak kenal ama dia… Walaupun gua bukan penggemar Twilight (sumpah!), tapi ya tau lah si Taylor Lautner itu. Udah tempted banget gua pengen gua poto pake BB, buat bikin orang-orang sirik (huahaha), tapi daripada ntar kenapa-napa, mendingan gua gak poto dah ya…  :D

Tapi ngeliat seleb yang biasa kita cuma bisa liat di film sama majalah secara langsung, dalam jarak cuma gak sampe 10 meter (gua waktu itu duduknya di barisan rada depan), it was really cool!!

Btw, ternyata Taylor Lautner gak setinggi yang gua kira. Apalagi dibandingin si Jasonn Momoa yang gede banget, si Taylor Lautner jadi keliatan pendek. Tapi orangnya lebih ganteng dari yang di film. Walaupun ya tetep gantengan gua dong ya… Huahaha. :P

Babak 2 : Baca Novel Lagi

Sebagai penutupan meeting nya kita dikasih liat sketsa-sketsa untuk film yang lagi dibikin ama kantor gua, The Hunger Games. Film ini diadaptasi dari best selling novel. Novel nya ini trilogi. Nah kelar meeting, di lobby bioskop, selain disediain minuman dan makanan, juga disediain bertumpuk-tumpuk novel The Hunger Games ini. Karena penasaran kenapa sih novel ini sampe heboh banget, jadilah gua ikutan ngebaca.

Wahhh dipikir-pikir udah lama banget gua gak baca novel. Terakhir gua baca novel itu awal tahun 2010, baca Perahu Kertas nya Dewil Lestari. Gile ye… udah setahun lebih gua gak baca novel! Padahal dulu gua tuh suka banget lho baca novel. Baca novel sambil tiduran, sambil dengerin CD tuh rasanya nikmaaattt banget. :D

Dan ternyata The Hunger Games ini seru banget! Ceritanya tentang apa… Baca sendiri aja ya… Hahaha.Gimana gak seru, Stephen King aja bilang kalo buku ini addictive. Dan Stephenie Mayer bilang: “I was so obsessed with this book….The Hunger Games is amazing.” Nah… penasaran kan? Hehehe :D

Sebenernya kemaren ini gua ngambil 2 buku, jadi gua masih ada 1 buku yang masih baru nih. Kepikir pengen bikin kuis, tapi gak tau gimana ngirim bukunya ke Indo. Hahaha. Ntar dah dipikirin lagi. :D Sekarang gua lagi mulai baca buku keduanya, Catching Fire.

Btw, gua juga lagi suka banget dengerin lagu-lagu Brazillian. Lagi demen banget ama Bebel Gilberto. Baca The Hunger Games, sambil dengerin CD nya Bebel Gilberto, sambil duduk leyeh-leyeh di gliderMantap… Hahaha. :D

Babak 3 : Ngidam

Minggu lalu, kita bela-belain nyetir sejauh 36 miles, alias 58 km (one way ya!), untuk ngambil pesenan rujak cingur! Gile deh selama Esther hamil kali ini, udah dua kali gua ngidam rujak cingur banget. Untungnya ada orang yang bisa bikin rujak cingur yang enak banget disini. Tapi ya itu… rumahnya jauh banget! :P

Emang katanya bisa begitu ya. Kalo istrinya hamil, bisa suaminya yang ngidam.

Yang lucu, dulu pas Esther hamil Andrew, gua juga ngidam… Dan ngidamnya juga ngidam rujak cingur! Ngidamnya tuh sampe pengeeennn banget gitu. Tapi dulu seinget gua cuma sekali ngidam nya. Yang kali ini sampe 2 kali gini. Huahaha.

Babak 4 : Kontraksi

Hari Jumat kemaren, Esther jadwal periksa ke dokter kandungan. Eh ternyata pas dicek, ternyata Esther tuh kontraksi tiap 5 menit! Yang lucunya, si Esther gak berasa sama sekali lho. Akhirnya si Esther ditahan di rumah sakit sampe sekitar 2 jam-an lah. Dicek segala macem lagi. Dan semuanya ternyata bagus. Bayinya ok-ok aja, air ketuban juga masih ok, pembukaannya gak nambah dari sejak periksa yang terakhir, ukuran cervix nya pun normal. Tapi ya itu, tetep aja pas dicek kontraksinya, tetep aja kontraksi tiap 5 menit, gak brenti. Aneh ya…

Yah akhirnya karena semuanya baik-baik aja ya Esther boleh pulang. Cuma dipesenin kalo dia berasa ada something wrong harus segera ke rumah sakit lagi. Besok Senin sih ada jadwal ketemu dokter lagi untuk USG. Yah moga-moga semuanya baik-baik dah… Soalnya kehamilannya baru 33 minggu nih… Sabar ya Emaa… Tunggu 3 minggu lagi dah ya… :)

Bahkan carseat nya aja tadinya belum dipasang. Kita tadinya mau ke Highway Patrol office untuk pasang carseat karena mereka ini certified untuk masang carseat bayi yang baik dan benar. Tapi ternyata kita baru dapet appointment nya tuh tanggal 28 Juni. Lha kalo si Emma tiba-tiba nongol (walaupun moga-moga sih gak secepet itu ya… Hehe) gimana dong… Jadilah kemaren gua cari-cari di Google dah tentang cara masang yang bener. Eh ternyata gampang kok. Jadi tadi udah gua pasang akhirnya. Hahaha.

Tapi ya tetep ya… Sabar-sabar ya Emma… Kalo bisa nunggu 3-4 minggu lagi aja ya… :D Anyway, gua percaya sih mau lahirnya kapan, itu pasti udah diatur yang terbaik ama Tuhan ya… :)



Link to full article

Rumah Untuk Kejujuran

Mohon ikut berkontribusi. Setidaknya, ikut berdoa dan LIKE.

https://www.facebook.com/pages/Rumah-untuk-Kejujuran/179369742120800

Untuk cerita latar belakangnya, mohon bantuan share link berita-beritanya. (Berita utama mungkin dari Surabaya Post?) Ini kasus keluarga yang tidak ingin terlibat nyontek bersama. Setelah dilaporkan, malah mereka yang mendapat tekanan dan bahkan diusir dari rumahnya.


Filed under: Pendidikan Tagged: Pendidikan, postaday2011
Link to full article

Popular Posts